Toples Nastar yang Hilang
KIRI ×11 · KANAN ×11 · sekitar 3 menit dibaca
Malam Natal di rumah Oma Ria selalu ramai. Di luar hujan turun rintik-rintik, di dalam pohon Natal berkelap-kelip, dan di meja ada toples besar berisi kue nastar di sebelah ← kiri pohon, dan sepiring kastengel di sebelah kanan →. Oma membuat nastar itu sendiri, dengan selai nanas yang manis. Tapi waktu Oma kembali dari dapur, toples itu sudah tidak ada!
Sari melihat ke ← kiri: hanya ada kursi kosong. Bimo melihat ke kanan →: hanya ada kucing, si Belang, yang sedang menjilati kakinya dengan wajah polos. Terlalu polos.
Di lantai ada remah-remah kue kecil. Remah itu berbelok ke ← kiri, melewati sofa, lalu ke kanan →, melewati rak sepatu, lalu ke ← kiri lagi, menuju teras. "Ikuti remahnya!" seru Bimo. Si Belang mengikuti dari belakang, kadang ke ← kiri, kadang ke kanan →.
Di teras, Om Budi sedang memperbaiki lampu hias. "Toples? Tadi ada yang lari ke kanan →, ke arah garasi," katanya. Tapi Tante Lina yang sedang menyapu berkata, "Bukan, ke ← kiri! Ke arah kebun!" Sari dan Bimo saling pandang. Lalu Sari lari ke ← kiri, Bimo lari ke kanan →.
Di kebun, Sari hanya menemukan payung terbalik yang penuh air hujan. Di garasi, Bimo hanya menemukan sepeda tua dan seekor katak yang kaget, lalu melompat ke kanan →. Tidak ada toples. Lalu mereka mendengar suara "kriuk, kriuk" dari atas.
Di atap garasi, di sebelah ← kiri antena, duduk seorang kakek berjanggut putih dengan baju merah. Sinterklas! Tangan kanan → Sinterklas memegang toples nastar, dan mulutnya penuh. "Maaf," katanya sambil tertawa. "Hujannya deras sekali, jadi saya berteduh di sini. Dan nastar ini harum sekali."
Oma ikut tertawa. "Ambil saja beberapa untuk di jalan, Sinterklas. Tapi toplesnya dikembalikan, ya!" Sinterklas turun pelan-pelan, memberikan toples dengan tangan kanan →, lalu dengan tangan ← kiri membuka karungnya.
Dari karung itu keluar hadiah untuk semua orang di rumah: satu ke ← kiri, satu ke kanan →, sampai karungnya kosong. Lalu Sinterklas melambai ke ← kiri, melambai ke kanan →, dan menghilang di balik hujan dengan payung merahnya.
Ceritanya selesai di sini. Sekarang semua membuka hadiah yang sedang dipegang!
Kotak Kado dan Pak Satpam
KIRI ×15 · KANAN ×15 · sekitar 4 menit dibaca
Hari Jumat itu kantor Kepingan Salju mengadakan pesta akhir tahun. Lampu hias berkedip di dinding ← kiri dan kanan →. Di ruang rapat ada tumpeng besar, di sebelah ← kiri ada risoles, di sebelah kanan → ada es buah, dan di tengah ada kotak besar berisi semua kado untuk tukar kado. Paling tidak, seharusnya begitu. Kotaknya hilang!
"Tadi pagi saya taruh di sini," kata Dewi dari bagian keuangan. Ia menunjuk ke ← kiri, lalu ke kanan →, lalu ke ← kiri lagi, lalu bingung sendiri. "Atau di meja sebelah? Pokoknya di dekat tumpeng."
Pak Hendra, sang manajer, langsung membagi tugas sambil menunjuk dengan tangan ← kiri. "Tim keuangan cari di lorong sebelah ← kiri. Tim pemasaran cari di sebelah kanan →. Tim IT cek kamera. Sisanya jaga tumpeng!"
Tim keuangan berjalan ke ← kiri dan menemukan tiga gelas kopi, satu payung, dan kalender tahun lalu. Tim pemasaran berjalan ke kanan →, lalu belok ke kanan → di ujung lorong, dan menemukan kaus kaki bergambar rusa yang tidak ada pemiliknya. Kotak kado tetap tidak ada.
Sementara itu, Rizky dari tim IT memutar rekaman kamera dan menggeser videonya ke ← kiri, lalu ke kanan →. "Ketemu!" serunya. Di layar terlihat Pak Joko, satpam kantor, mengangkat kotak itu dengan tangan kanan →, menoleh ke ← kiri, menoleh ke kanan →, lalu membawanya keluar.
Semua orang berlari ke pos satpam di depan: belok ← kiri di dekat lift, belok kanan → di dekat tangga, lalu ← kiri lagi di dekat parkiran motor. Di pos satpam, Pak Joko sedang duduk di kursi sebelah kanan →, minum teh manis sambil menonton hujan.
"Pak Joko! Kotak kadonya!" seru Dewi. Pak Joko kaget, lalu tertawa. "Oh, itu kado? Saya kira itu kotak barang hilang, jadi saya simpan di sini supaya aman." Ia menepuk kotak itu dengan tangan ← kiri, lalu dengan tangan kanan → menawarkan teh manis. "Aman sekali, kan?"
Semua tertawa. Pak Hendra mengangkat kotak itu, dan Pak Joko diajak ikut pesta. Di ruang rapat, mereka duduk melingkar. Risoles berpindah ke ← kiri, es buah ke kanan →, kue lapis ke ← kiri, kerupuk ke kanan →, dan tumpeng dipotong oleh Pak Joko sebagai tamu kehormatan.
Lalu Pak Hendra melihat ke ← kiri, melihat ke kanan →, dan berkata, "Terima kasih semuanya untuk tahun ini. Tanpa kalian, tidak ada kado yang sampai tepat waktu. Dan terima kasih, Pak Joko, sudah menjaga kado kita."
Ceritanya selesai di sini. Sekarang semua membuka kado yang sedang dipegang!